Memberdayakan PKL dengan telematika

Memberdayakan PKL dengan telematika

UKM

JAKARTA: Telematika bisa membantu pemerintah memberdayakan pedagang kaki lima untuk naik kelas jadi pengusaha kecil lewat program  Cyber Kaki Lima.

“Program ini baru akan diluncurkan pada Desember 2011 yang intinya memberdayakan  pedagang kami lima agar dapat meningkatkan usahanya  dengan layanan SMS,” kata Abimanyu Wachjoewidajat, Managing Director PT Inovasi Mitra Solusindo,  hari ini.
Bersama timnya Abimanyu mengatakan bahwa jumlah pedagang kaki lima (PKL) di Indonesia yang mencapai lebih dari 20 juta orang banyak yang dijalani  pelaku usaha karena terpaksa dan kepepet tidak mendapat pekerjaan lain.
“Dari sisi jumlah seharusnya pemerintah melakukan terobosan, menolong mereka untuk naik kelas menjadi pengusaha kecil yang kreatif dan inovatif dengan kemajuan tekhnologi telematika. Namun kenyataannya sampai saat ini terobosan itu belum di lakukan,” kata Abimanyu pakar telematika yang akrab di panggil Abah ini.
Tekhnologi SMS yang diberikan pada PKL jenis pedagang mie ayam pangsit, misalnya tanpa melalui provider selular karena biayanya akan mahal. Sementara itu usaha mikro selalu terganjal soal modal dan akses perbankan.
“PKL bisa menginput data harian, berapa kg mie yang disiapkan dan sorenya input lagi berapa yang terjual. Dengan akun tersendiri dan sistem komputer yang dirancang maka data yang masuk bisa menganalisa apakah pedagang tersebut sudah bekerja optimal, berapa kilogram bahan baku yang dipakai dan menghasilkan berapa banyak jumlah produk, berapa banyak pula dagangannya yang terjual,” jelasnya.
“Lewat layanan pesan singkat (SMS) bahkan PKL dapat di bimbing untuk melebarkan usaha ke daerah lain seperti franchaise. Kita juga bisa sarankan jangan berjualan mie ayam karena pangsa pasarnya sudah jenuh atau tidak memenuhi selera pasar di tempatnya berdagang sehingga mereka harus berjualan penganan lain,” tandas  Abimanyu.
Pada prinsipnya, telematika mampu   memberdayakan pedagang kaki lima untuk naik kelas dari golongan usaha  mikro jadi usaha kecil. Untuk itu dibutuhkan kepedulian pemerintah dan berbagai pihak agar mereka bukan lagi sekedar jadi pedagang tapi punya jiwa entrepreneurship dengan kreativitas dan inovasi yang terasah.
“Cyber Kaki Lima akan kami luncurkan Desember mendatang bersamaan dengan seminar nasional yang diikuti sedikitnya 438 peserta dari kota kabupaten di seluruh. Indonesia,” lanjut Abimanyu.
Pihaknya optimistis  bukan hanya PKL yang mendapatkan manfaat dari program cyber Kaki Lima ini tapi juga para pemasok dari usaha PKL itu sendiri (vendor) sehingga dari satu kota saja misalnya akan terdata jumlah kebutuhan akan mie, misalnya.
“Kami rancang sistem ini dengan dukungan dana sendiri maupun sponsor. Nantinya kalau Kemenkop dan pemerintah sudah melihat manfaatnya mungkin bisa gunakan APBN sehingga pemerintah benar-benar fokus berdayakan yang kecil-kecil dulu,” tandasnya. (sut)
Sumber: Bisnis Indonesia | bisnis.com

APRESIASI E-COMMERCE DAN UKM CENTRE, PERAJIN MARMER TULUNG AGUNG MINTA DENPASAR JADI BAPAK ANGKAT

Kunjungan Tulung Agung

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Ungkapan tersebut memang benar adanya. Selain belajar dari pengalaman diri sendiri, pengalaman orang lain pun dapat dijadikan pelajaran. Dan adalah sebuah kebanggaan tersendiri apabila ada yang bertanya dan tertarik belajar dari pengalaman yang kita alami.

Tanpa bermaksud jumawa, karena masih seumur jagung dan perlu banyak belajar, namun kehadiran UKM Centre Inkubator Bisnis Kota Denpasar dengan program rutin e-commercenya telah mengundang kagum sejumlah kalangan baik birokrasi, insan media maupun perajin daerah lain. Setelah ditinjau tim Komisi Pemberantasan Korupsi dan Warta e-gov, kini sanjungan datang dari perajin marmer Tulung Agung.

Tiba pada hari Rabu (28/9), 28 perajin marmer ini bermaksud melihat pangsa pasar kerajinan marmer di Bali. Menurut pimpinan rombongan Kabid Industri Kimia Agro Dinas Perindag Kabupaten Tulung Agung Ibu Socanintyas, kendala yang dihadapi perajin disana adalah daerah pemasaran, dimana sentra kerajinan jauh dari bandara ataupun pembeli. Bali dipilih dengan harapan ada pengusaha di Bali yang berkenan membantu memasarkan produk marmer ke sejumlah pembeli. Pada hari Kamis (29/9) rombongan ini menyempatkan menghadap Kadis Perindag Wayan Gatra. Diterima di ruang pertemuan, Gatra menceritakan bahwa Bali memang pusat pemasaran sejumlah produk dari Indonesia mengingat Bali merupakan tujuan wisata yang dikunjungi banyak calon pembeli lokal dan internasional. Dikatakannya pula bahwa Pemerintah Kota Denpasar memiliki program e-commerce www.balidenpasartrading.com yang memfasilitasi promosi online secara gratis kepada perajinnya. Ditambah pula keberadaan UKM Centre Inkubator Bisnis sebagai pusat penelitian dan pengembangan ekonomi kreatif menjadikan pembinaan perajin tersinergikan.

Mendengar penyampaian tersebut, keesokan harinya yaitu Jumat (30/9), rombongan melakukan kunjungannya ke UKM Centre Inkubator Bisnis Kota Denpasar yang berlokasi di Lantai V Pasar Kumbasari Jl Gajah Mada Denpasar. Diterima staff pengelola UKM Centre IB Upawana, rombongan sempat melihat-lihat fasilitas yang ada berupa sanggar telematika, ruang e-commerce dan ruang pelatihan. Dalam bincang-bincangnya, Upawana menyampaikan bahwa berdirinya UKM Centre merupakan upaya Pemerintah Kota Denpasar mensinergikan 3 pilar penggerak pembangunan. Pemerintah selaku regulator, akademisi selaku pengembang ilmu pengetahuan dan sector swasta melalui CSR harus bersama-sama memajukan UKM. Pasca selesai direnovasinya gedung Pasar Kumbasari pada tahun 2009 dirintislah pembentukan UKM Centre atas prakarsa Walikota Denpasar IB Rai D Mantra. Program e-commerce yang telah digarap terlebih dahulu kemudian dipusatkan pengembangan dan pembinaan kepada perajin di UKM Centre. Perajin maupun Pembina UKM dari Tulung Agung banyak menyoroti tentang program kerja UKM Centre untuk perajin, sumber pendanaan kegiatan, kelembagaan UKM Centre, kiat-kiat perajin Denpasar dalam menghadapi persaingan, sampai pada biaya yang harus dikeluarkan perajin yang ingin bergabung di program e-commerce.

Menjawab pertanyaan tersebut, Upawana menjelaskan bahwa untuk ikut serta dalam program e-commerce tidak dipungut biaya sama sekali. Demikian pula untuk setiap pendampingan yang dilakukan staff pengelola UKM Centre kepada UKM dalam hal penggunaan fasilitas kode akses di web www.balidenpasartrading.com. Program kerja yang dilaksanakan di UKM Centre dibiayai baik oleh APBD maupun pihak ketiga. Pemerintah Kota Denpasar menjalin kerjasama dengan FE Unud, FTP Unud, Politeknik Negeri Bali, STIKOM Bali, ISI Denpasar, PT Telkom, Aspiluki, Bank Indonesia, BPD Bali serta KKMB. Demikian pula fasilitas yang ada disediakan Pemerintah dan partisipasi swasta. Kiat perajin Kota Denpasar dalam menghadapi persaingan usaha adalah dengan membentuk kelompok/asosiasi bersama. Difasilitasi Pemerintah Kota Denpasar, telah terbentuk asosiasi produk spa, sandal, tekstil, pande besi dan lainnya. Dengan membentuk asosiasi ini kelebihan order dapat di berikan ke rekan lainnya, demikian pula akan memudahkan pembinaan termasuk menjaga kualitas produk antar anggota. Meskipun belum berbentuk UPT, UKM Centre senantiasa berusaha seoptimal mungkin memaksimalkan fasilitas dan melaksanakan program kerja sebaik-baiknya. Diakhir kunjungannya, perajin marmer Tulung Agung meminta Denpasar bersedia menjalin kerjasama atau sebagai bapak angkat apabila di Tulung Agung akan membuat program e-commerce maupun UKM Centre sejenis yang dimiliki Denpasar.

Sumber: http://www.denpasarkota.go.id/