Investor – Inkubator – Akselerator Harus Bantu Inovasi

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel di majalah Businessweek Indonesia edisi 15-21 September 2011 tentang Steve Perlman dan inkubator bisnis Rearden.

Steve, pendiri Rearden sedang mengembangkan DIDO (distributed-input-distributed-output). Dijelaskan di majalah tersebut, DIDO sebuah teknologi nirkabel yang diharapkan menjadi solusi dari era kemacetan jaringan dan panggilan telepon yang terputus.

Artikel tersetut menarik bagi saya bukan hanya karena ‘kisah’ Steve dan DIDO, namun lebih pada mental dari Steve Perlman yang selalu mau mengusung inovasi atas apa yang ia kembangkan, bahkan ia mengkrtitik tentang mental di Silicon Valley yang sudah tidak ‘sekeren’ dulu dimana dulu lebih banyak orang yang berani mengambil resiko dan fokus pada terobosan-terobosan baru.

Dari artikel tersebut saya melihat Steve Peralman yang menyesalkan kondisi di Silicon Valley yang lembek dan kurang mau berpetualang dan lebih fokus pada memodali bisnis internet yang tampak menarik dari luar, meski tentu saja masih ada yang rela mau berjuang keras sampai titik penghabisan untuk terobosan baru.

Hal menarik lain, dikisahkan Andy Rubin (Android), Steve pernah datang dan membawa uang $10.000 pada Andy ketika tahun 2003 Android kehabisan dana. Seperti yang ditulis diartikel Andy mengatakan bahwa Steve tidak mau ambil saham, ia lebih tertarik berinvestasi pada ide dan hal yang mengubah sejarah.

Kemudian saya berpikir tentang kondisi perkembangan teknologi, startup, wirausaha dan bisnis yang berhubungan dengan teknologi di Indonesia.Tentunya tidak bisa disamakan secara begitu saja, ada banyak faktor yang harus diperhatikan, namun di sisi lain hal yang dilakukan Steve bisa menjadi inspirasi bagi pelaku startup di sini, dimana inovasi, pengembangan hal baru, terobosan atau penyempurnaan yang telah ada bisa jadi nadi dari pengembangan usaha.

Bukan berarti layanan atau startup yang ada sekarang tidak mengedepankan inovasi, bisa jadi mereka berinovasi dengan jalannya masing-masing dengan kemampuannya masing-masing, namun tentunya masih kurang juga yang menawarkan sesuatu yang baru, terobosan atau membawa ide yang sudah ada ke tahap selanjutnya dan disruptive.

Dari obrolan santai ‘warung kopi’, membaca berbagai diskusi dan pemikiran saya juga melihat ada kendala lain selain semangat membuat ide baru, yang saya yakin mampu dilakukan oleh developer, founder, wirausaha bidang TI di sini, yaitu modal.

Membuat terobosan baru, layanan yang belum pernah ada sebelumnya bisa jadi membutuhkan modal yang besar, baik dari riset, pengembangan, serta untuk mendapatkan pengguna. Modal yang terbatas bisa jadi salah satu masalah yang dihadapi para wirausaha TI atau startup, padahal dari kemampuan serta ide kita tidak kalah.

Lalu saya sampai pada sebuah kesimpulan awal (yang bisa jadi masih prematur) bahwa jangan-jangan yang harus mendukung proses inovasi, penemuan hal baru, pengembangan terobosan adalah para inkubator, akselerator, angel investor dan para VC. Mereka ini yang harusnya mau mengambil resiko untuk mengeluarkan dana atas pengembangan hal baru atau penyempurnaan dari ide yang sudah agar lebih baik lagi.

Para pengembang/startup di bebaskan dari pikiran dana dan memfokuskan diri para pengembangan, riset serta strategi untuk mendapatkan pengguna, tidak hanya melulu dipusingkan oleh cara-cara bagaimana mendapatkan pemasukan atau bagaimana caranya mengembalikan modal.

Tentu saja sebagai sebuah bisnis para founder atau yang berkutat di dunia startup harus pula mempelajari elemen bisnis, akuisisi pelanggan, strategi monetisasi, rencana bisnis dll. Namun disisi lain, pembentukan ide baru, terobosan, pembaruan, ide yang disruptive dan mengena pada masalah serta dibutuhkan oleh pengguna membutuhkan fokus, usaha serta kerja keras yang tidak bisa singkat. Untuk inilah mereka harus benar-benar meluangkan sebagian besar waktu mereka.

Tulisan ini tentu masih perlu diskusi dan masukan lebih lanjut, saya sendiri masih terus mengolahnya dengan mencari bahan acuan atau berbincang dengan relasi, jika Anda punya pendapat bisa dituliskan pada kolom komentar.

Sumber http://dailysocial.net/2011/09/28/investor-inkubator-akselerator-harus-bantu-inovasi/

World Batik Summit

World Batik Summit

Kokohkan Batik di Pentas Dunia

USAI dikukuhkan sebagai warisan tradisi kesenian dan kebudayaan bangsa secara internasional oleh UNESCO, pekerjaan rumah untuk terus mengusung batik di pentas dunia tidak terhenti di sana. Karenanya, ajang World Batik Summit (WBS) pun digagas.

Batik yang dicintai masyarakat Indonesia mungkin sudah tak lagi diragukan. Dukungan masyarakat untuk melestarikan kain adati tersebut semakin menggelora di lubuk hati warga Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat dari kesadaran masyarakat yang menjadikan batik sebagai bagian dari keseharian. Bahkan setiap satu pekan, para pegawai BUMN mengenakan batik sebagai busana kantor.

Dengan dukungan tersebut, batik menjadi tuan rumah di negeri sendiri pun terwujud sudah. Meski begitu positifnya dukungan masyarakat, kita jangan dulu berlega hati. Pekerjaan rumah untuk mengharumkan batik agar mendunia menjadi tantangan selanjutnya yang perlu direalisasikan. Penyelenggaraan World Batik Summit menjadi sebuah langkah nyata untuk kian mengharumkan batik di pentas internasional.

“Perhelatan ini adalah bentuk tanggung jawab kami atas kelanjutan batik setelah UNESCO memberi kepercayaan kepada Indonesia atas pengakuan batik sebagai warisan tradisi kesenian dan kebudayaan bangsa Indonesia,” ujar Jultin Ginandjar Kartasasmita, salah satu pendiri Yayasan Batik Indonesia saat konferensi pers World Batik Summit di Ruang Cempaka Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta, Jumat (23/9/2011).

Senada dengan Jultin, Ketua Panitia WBS Doddy Soepardi mengatakan, bahwa selama ini batik memang mendunia. Namun, Indonesia tetap menjadi rumahnya.

“Boleh saja negara manapun mengakui punya batik tapi home-nya di Indonesia,” tuturnya.

Ajang menarik tersebut akan diisi dengan berbagai acara, seperti konferensi batik, pameran batik, hingga kunjungan ke tempat-tempat yang memiliki kaitan bersejarah dengan batik. Acara yang mengusung tema “Indonesia: Global Home of Batik” tersebut berlangsung di Balai Sidang Jakarta Convention Center, Jakarta, mulai dari 28 September-2 Oktober 2011.

Sumber http://kaskushotthread.com/thread